Senin, 12 Maret 2012

renungan KRD :)

Dalam catatan ini saya ingin berbagi kisah nyata yang saya alami tadi sore.
Hari ini, saya pulang UAS dan seperti biasa saya menggunakan kereta api krd ekonomi karena hanya kereta itu yang berhenti di stasiun kiara condong.
Saya dan teman-teman menggunakan kereta jam 14.36 , tetapi ternyata keretanya telat dan datang pada pukul 16.00
Kereta pun penuh sesak dan tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya memaksa masuk ke dalam kereta.
Sayapun tidak begitu memperdulikannya karena saya sedang bersenda gurau dengan teman-teman.
Sampai akhirnya saya menyadari bahwa nenek itu jalan tertatih-tatih karena cacat dan menggunakan 2 tongkat.
Nenek itupun mengundang perhatian saya dan teman saya. Dia jalan dengan tertatih di dalam kereta yang sangat penuh dan sesak. Tampak dia kesulitan berjalan dan membawa sebuah tas yang sangat berat.
Dia pun mencari kursi yg kosong tapi tidak ada karena kereta sudah sangat penuh.
"Neng, punten emak ngiring calik"
"Sesah mak, pinuh" ujar salah satu anak muda.
Nenek itupun berjalan agak kedepan.
"Neng, mak hoyong calik iyeu sampean na nyeuri"
"Mak abi ge sarua cangkeul. Ngke di stasiun hareup abdi turun"
Astagfirullah..
Saya dan ayu (teman saya) sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Andaikan saya duduk, pasti nenek itu sudah duduk sekarang.
"Yu, kasian nenek itu"
"Manusia jaman sekarang cha, cuman mikirin diri sendiri"
Ya, ayu benar! Manusia jaman sekarang rasa empati, simpatinya sudah terkikis oleh rasa egois.
YaAllah, bagaimana kalau orangtua yang cacat itu ibunya? Apa dia tega melihat ibunya yang cacat berdiri dengan tongkat di kereta yang penuh?
Hemm, catatan ini bukan untuk menggurui siapapun tapi sebagai cermin agar kita bisa lebih membuka mata hati kita :)